Bandung, tandabaca.id –
Kadin geber vokasi bagi tenaga kerja Industri. Langkah dilakukan untuk songsong Indonesia Emas 2045. Mengingkat cost vokasi Indonesia, saat ini hanya 10 persen dari 9 juta mahasiswa.
Waketum Kadin Jabar Koordinator Bidang Industri, Teknologi, Energi, Pendidikan dan Vokasi Hadi S Cokrodimedjo mengatakan kick off kegiatan sudah dilakukan pada Kamis 22 Juni 2023, lalu.
“Kickoffnya 22 Juni kemarin di Bandung. Dilakukan, oleh 4 Kadin, Jabar, Jateng, Jatim dan DIY,” katanya, Minggu 9 Juli 2023.
Yang akan mendapat bekal vokasi adalah para asisten manager, HRD manager, pusdiklat manager.
“Manager dilatih karena metoda pelatihannya ToT (training of trainer),” katanya.
Pembekalannya sendiri, akan dilakukan di Bandung, waktunya, termin pertama satu minggu, termin kedua satu minggu.
Yang akan memberikan pelatihan adalah para master di bidangnya, master trainer atau master asesor.
“Pendidikannya standar Jerman,” tambahnya.
COST VOKASI INDONESIA RENDAH
Hadi S Cokrodimedjo menjelaskan Indonesia emas tinggal 22 tahun lagi, tapi tingkat vokasi di Indonesia masih sangat rendah.
Cost vokasi di Indonesia hanya 10 persen saja dari 9 juta mahasiswa. Jerman vokasinya sampai 50 persen. Cina, tingkat vokasinya sama seperti Jerman, 50 persen.
“Misal mahasiswa di Jerman 10 juta, maka tingkat vokasinya mencapai 5 juta. Indonesia dari 9 juta mahasiswa yang vokasi hanya 900 ribu,” katanya.
“Vokasi itu mencakup attitude, skill dan knowlight atau ASK,” ungkapnya.
Diungkap Hadi, negara maju manapun pendidikan keahliannya kuat, kalau Indonesia pendidikan pengetahuannya yang kuat.
“Pendidikan kita terbalik, kebanyakan pengetahuan, skilnya kurang, apalagi karakter. Sehingga pekerjaan kita di Industri, memang belum produktif,” bebernya.
Soal skill, untuk area Asia Tenggara saja, pekerja Indonesia, kalah dari Filipina, Thailand, Vietnam, dan Singapura.
“Kalau dengan Malaysia, kita cukup sebanding, yah,” katanya.
KURIKULUM BELUM MATCH DENGAN INDUSTRI
Di Indonesia, terang Hadi, pendidikan Vokasi itu tersebar di beberapa kementerian dan lembaga. Seperti Kemendikbud Ristekdikti, Kemenakertrans, dll
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud Ristekdikti bertanggungjawab pada SMK Politeknik dan Lembaga Kursis Pelatihan (LKP). Di bawahnya, ada 22 ribu LKP, 14 ribu SMK, 54 politeknik negeri, 150 politeknik swasta dan 1500 an sekolah vokasi.
“Vokasi di Indonesia lemah karena kurikulumnya belum macth dengan industri,” katanya
Selain itu, tambah Hadi, lembaga pelatihan kerja, kursus pelatihan kerja, dan sebagainya, kondisinya juga payah, strukturnya banyak yang belum ahli.
Kendala lainnya, soal peralatan yang mahal, kurikulum yang tidak memadai, instruktur yang belum ahli, metode pengajarannya masih jadul dan sebagainya.
Yang tidak kalah mengenaskan, program pemagangannya juga asal-asalan, anak SMK magang hanya disuruh fotocopy, membuat kopi, beli koran dan sebagainya.
Dengan kadin capacity building, jelas Hadi, Kadin ingin menata Industri, agar siap menerima magang siswa, magang guru, instruktur dan lain sebagainya. ***
BACA INI JUGA
Jepang Lapar Tenaga Kerja Blue Collar, Kebutuhannya Jutaan, Kadin Jabar Lakukan Ini














Responses (5)