Jakarta, tandabaca.id
Setidaknya dua kali dalam hidup saya berkunjung ke Kampung Kurus untuk satu tujuan; bertemu dan wawancara Yusnia — penyanyi Dangdut yang populer lewat Gubuk Derita.
Saat itu saya masih wartawan Inti Jaya. Senior saya adalah almarhum Johan Bandarea Kosasih, keturunan Arab yang punya nama Tionghoa Lin Giok (LIHAT CATATAN KAKI).
Saya masih ingat bagaimana saya menahan diri untuk tidak terbelalak dan tertawa ketika Yusnia memberi kartu nama, dan saya membaca alamatnya. Setelah Yusnia beranjak dari depan saya, barulah saya tertawa membaca nama Kampung Kurus.
Siapa pun yang kali pertama mendengar Kampung Kurus pasti tertawa, atau setidaknya tersenyum, dan bertanya-tanya.
Namun, informasi tentang kampung ini relatif minim. Salah satu media online hanya mengulas pendek kampung ini dengan sumber sejarawan dan arkeolog Chandiran Attahiyat.
TOEGOE DAN KOEROES
Steven Adriaan Budingh, dalam laporan perjalanan berjudul ๐๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ด-๐๐ฐ๐ด๐ต-๐๐ฏ๐ด๐ฅ๐ช๐ฆ: ๐๐ฆ๐ช๐ป๐ฆ๐ฏ ๐๐ท๐ฆ๐ณ ๐๐ข๐ท๐ข ๐๐ฐ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฆ 1 yang diterbitkan di Rotterdam 1859, menyebut Toegoe dan Koeroes secara bersamaan ketika menceritakan kunjungannya ke komunitas keturunan Portugis pemeluk Kristen di bekas tanah milik Justinus Vinck — tuan tanah pembangun Pasar Tanah Abang,
Pasar Senen, dan menggali saluran untuk mengeringkan Rawa Lagoa (baca: Lago-a).
Dalam ๐๐ข๐ณ๐ฏ๐ช๐ป๐ฐ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฌ๐ข๐ข๐ณ๐ต ๐๐ข๐ต๐ข๐ท๐ช๐ข ๐ฆ๐ฏ ๐๐ฎ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ฏ (lihat gambar), Toegoe dan Koeroes dipisahkan Batottoemboe. Jarak keduanya cukup jauh, tapi dipersatukan oleh status — tertera jelas dalam peta — bahwa keduanya adalah Tanah Serani Oost en West. Serani adalah sebutan orang Melayu untuk penganut Nasrani.
Ketika tiba di Toegoe dan Koeroes tahun 1859, Budingh hanya menemukan 115 jiwa, termasuk 59 anak-anak dan hanya 3 anggota pengurus kampung. Hanya ada satu gereje di Toegoe, yang dibangun Justinus Vinck. Koeroes tak punya gereja, yang membuat penganut Kristen dari kampung ini harus jalan kaki ke Toegoe setiap pekan.
Populasi Toegoe dan Koeroes menyusut hebat dalam kurun hampir 200 tahun. Mereka adalah tawanan VOC yang dibawa ke Batavia setelah penaklukan Malaka.
Mereka dibaptis ulang menjadi Kristen, berstatus warga bebas (mardijker), dan ditempatkan di Toegoe dan Koeroes. Jumlah mereka saat itu 800 jiwa, terdiri dari beberapa keluarga.
Anehnya, Koeroes tak pernah disebut dalam berbagai arsip VOC dan Hindia Belanda. Asumsi tak terkonfirmasi menyebutkan Toegoe adalah nama tanah partikelir, Koroes hanya kampung kecil di dalam tanah partikelir. Sebelum abad ke-20, seperti terlihat dalam ๐๐ฐ๐ฑ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ฑ๐ฉ๐ช๐ด๐ค๐ฉ๐ฆ ๐๐ข๐ข๐ณ๐ต ๐ฅ๐ฆ ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฆ ๐๐ข๐ต๐ข๐ท๐ช๐ข, Koroes tak tertera.
Nama ini baru muncul dalam peta awal abad ke-20, ketika terjadi penataan kampung. Maka, tidak aneh jika Chandriyan Attihijat mengatakan Kampung Kurus telah ada sejak tahun 1900.
KECIL DAN MISKIN
Toegoe dan Koeroes relatif sama. Menurut Budingh, keduanya hanya kampung kecil yang relatif sama dengan kampung-kampung masyarakat Muslim di sekitarnya. Rumah-rumah terbuat dari bambu dan beratap rumbia (Budingh menyebutnya rumput liar).
Satu dan lain rumah terpisah cukup jauh, dengan pepohonan lebat, semak belukar, dan pohon buah-buahan, melingkupi setiap rumah. Persawahan cukup luas, yang mengindikasikan penduduk kedua kampung sepenuhnya menggantungkan hidup dengan bercocok tangan.
Tidak ada penjelasan mengapa terjadi penyusutan populasi. Budingh tak bercerita soal itu. Ia sepertinya fokus pada bagaimana masyarakat keturunan Portugis itu kehilangan Bahasa Creole, campuran Bahasa Portugis dan Melayu, dan sepenuhnya berbicara dalam Bahasa Melayu.
Kehilangan itu dimulai ketika pada 1 November 1804 saat jemaah Portugis dan Melayu disatukan. Misa berlangsung dalam Bahasa Melayu, yang membuat jamaah Portugis harus menyesuaikan diri.
Di sisi lain, pemerintah Hindia-Belanda sedang mempromosikan Bahasa Belanda dikalangan mardijker dan melarang penggunaan Bahasa Portugis dan Creole.
A Zomerdijk dan AA Engelbert, dua pendakwah Belanda yang bertugas di tempat ini, justru lebih suka menggunakan Bahasa Melayu saat memimpin misa. Alih-alih mempromosikan Bahasa Belanda, keduanya justru asyik berbicara dalam Bahasa Melayu.
Tidak ada cerita bagaimana Koeroes berkembang sedemikian rupa, pribumi dan keturunan Portugis pemeluk Kristen di dalamnya seolah menghilang. Budingh menulis ketika terjadi penurunan populasi Toegoe dan Koeroes, perlahan-lahan terjadi perpindahan penduduk dari Batavia kedua kampung.
Koeroes mungkin yang paling banyak menerima pendatang, karena populasi yang sangat sedikit, bentang lahan bisa digarap sedemikian besar, dan binatang liar bisa diburu masih cukup banyak. Itu terjadi hampir satu abad, sampai akhirnya Koeroes memiliki populasi sedemikian banyak.
Pada akhirnya kita hanya mengenal Toegoe sebagai kampung keturunan Portugis yang masih bertahan, lengkap dengan gereja yang dibangun Justinus Vink, tapi tanpa Bahasa Creole dan Portugis sebagai bahasa sehari-hari.
Pada saat itu, Koeroes terhapus dari sejarah sebagai salah satu kampung tertua bentukan VOC.
– ๐๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฐ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐ข๐ด๐ญ๐ช ๐๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฆ๐ข ๐๐ฐ๐ด๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ซ๐ช ๐๐ข๐ญ๐ข๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐๐ฏ๐ต๐ช๐ฑ ๐๐ณ๐ด๐ช๐ฑ. ๐๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข. ๐๐ช๐ฏ๐ค๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต.
***
Olehย Teguh Setiawanย penulisย toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur
BACA INI JUGA
Orang Armenia di Batavia










Response (1)