Setelah Gowok Kamasutra Jawa, Film Hanung Bramantyo Kembali Tayang di IFFR Belanda

Setelah Gowok Kamasutra Jawa, Film Hanung Bramantyo Kembali Tayang di IFFR Belanda. Kali ini karyanya itu berjudul Bolang 309 Hari Sebelum Tragedi.

Bandung, tandabaca.id
Film horor Bolang 309 Hari Sebelum Tragedi, World Premiera di International Festival Film Rotterdam (IFFR) 2026 dari 3 – 7 Februari 2026.

Di IFFR 2026, film horor karya sineas Indonesia, ini tayang dalam progam Harbour dengan judul menjadi The Hole 309 Days to the Bloodiest Tragedy.

Penayangan perdana di Belanda, film ini dihadiri langsung oleh sang sutradara dan pemeran utama, Anya Zen.

Di media sosial Hanung Bramantyo, sang sutradara membagikan momen saat dirinya nonton bareng dan menyaksikan tiket filmnya habis dalam sekejap.

BACA INI JUGA : DPRD Jabar Soroti Kualitas Bangunan Sekolah Pasca Ambruknya SMAN 2 Gunung Putri

Film ini menjadi karya kedua dari Hanung yang lolos seleksi resmi IFFR setelah sebelumnya membawa film Gowok Kamasutra Jawa.

Film dengan Sutradara Hanung Bramantyo, dan diproduksi Dapur Film dan Adhya Pictures, terinspirasi dari berbagai cerita rakyat serta teori terkait peristiwa Gerakan 30 September.

Bagi sang Sineas, film tersebut merupakan wujud kemarahan sekaligus keresahannya terhadap sebuah peristiwa besar yang terjadi di era 1960-an.

“Ya, kemarahan seperti tidak ada pengakuan atau legitimasi tentang siapa dalang peristiwa tersebut. Yang mengakibatkan bukan hanya tujuh jenderal atau perwira yang meninggal, tapi juga ribuan bahkan ratusan ribu orang dari berbagai kalangan,” kata Hanung.

BACA INI JUGA : Beckham Antusias Menyambut Laga Kontra Malut United, Ini Alasannya

“Dan mereka tanpa proses peradilan, itu yang penting. Mereka tiba-tiba ditangkap di rumahnya, dimasukkan ke penjara, terpisah dari keluarga, dan keluarga di luar tidak tahu harus bagaimana,” tambahnya. Hanung merasa ada hal penting yang ingin ia suarakan melalui film ini.

“Akhirnya anak-anak tumbuh dewasa tanpa mengenal orang tuanya, timbul dendam, karena mereka terpisah dan tidak ada penjelasan. Kenapa orang tua saya tidak bisa pulang? Tidak ada negara, ditinggalkan, tidak diterjemahkan dengan baik,” ujar Hanung. “Dan alih-alih mengungkap siapa dalangnya, yang terjadi malah ditutupi. Setiap 1 Oktober, hal itu selalu diangkat lagi,” lanjutnya.***

BACA INI JUGA : Dewan Dorong Penguatan Komunikasi dalam Proses Penyesuaian Anggaran Daerah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *