TANDABACA.ID – Ali Larijani pemimpin de facto Iran setelah syahidnya Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.
Morteza, putranya yang setia, serta sekelompok pengawalnya yang gagah berani juga ikut syahid.
Larijani terakhir terlihat di depan umum pada Jumat (13/3) waktu setempat, saat menghadiri aksi peringatan Hari Al-Quds. Dia hadir bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Iran membenarkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) Ali Larijani telah tewas di tangan Israel.
Bahkan menurut Sekretariat SNSC, Ali Larijani gugur sebagai syahid bersama putranya, Morteza.
Dalam pernyataan yang dirilis Rabu pagi melalui laman Tasnim News, sekretariat SNSC membenarkan pernyataan Israel sebelumnya yang menyatakan berhasil menewaskan Ali Larijani yang dikenal sebagai pemimpin de facto Iran.
“Jiwa-jiwa suci para syahid merangkul jiwa suci hamba Allah yang saleh, Syahid Dr. Ali Larijani, yang, setelah seumur hidup berjuang untuk kemuliaan Iran dan Revolusi Islam, akhirnya mencapai keinginan lamanya,” tulis Sekretariat SNSC, Rabu (18/3/2026).
“Ia menanggapi seruan kebenaran dan, dengan penuh kehormatan, mencapai status suci kesyahidan dalam pengabdian kepada tanah airnya,” tambah SNSC.
Disebutkan pula bahwa Ali Larijani bergabung dengan Imam para syuhada Ramadhan, Amirul Mukminin, Imam Ali (AS), Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, gurunya yang gugur, Ayatollah Morteza Motahari, dan para sahabatnya yang gugur, Seyed Hassan Nasrallah dan Letnan Jenderal Qassem Soleimani.
“Hingga saat-saat terakhir hidupnya yang penuh berkah, beliau mengejar pengagungan firman Allah dan mengabdikan diri pada kebanggaan dan pembangunan Iran tercinta. Beliau secara konsisten mengajak dan menasihati rakyat dan para pejabat untuk bersatu dan bersolidaritas melawan musuh yang haus darah. Akhirnya, pada fajar (salah satu hari) bulan suci Ramadhan, bersama putranya yang setia, Morteza, sekelompok pengawalnya yang gagah berani, mereka mencapai derajat kesyahidan yang mulia,” tulis pernyataan tersebut.
BACA INI JUGA : Mojtaba Putra Kedua Ali Khamenei Calon Kuat Pengganti Ayahnya, Ini Penjelasannya
Pernyataan itu selanjutnya mengatakan bahwa kemenangan definitif menanti para mujahidin di jalan kebenaran, dan kesyahidan ini akan membuat bangsa Iran dan umat Muslim lebih bertekad untuk melanjutkan jalan yang ditempuh oleh orang-orang saleh ini.
“Semoga kesyahidannya membahagiakan baginya, karena perjuangannya selama bertahun-tahun ini tidak kurang dari pencapaian besar ini. Semoga kenangannya abadi dan jalannya diikuti secara luas,” kata Sekretariar SNSC.
Cara Israel Bunuh Larijani
Sebelumnya Militer Israel (IDF) mengeklaim telah berhasil melenyapkan atau menewaskan Ali Larijani, sosok yang disebut sebagai ‘pemimpin de facto’ Iran saat ini, setelah tewasnya Ali Khamenei.
Operasi militer Israel untuk memburu pejabat tinggi Iran tersebut berlangsung intens dan penuh kerahasiaan sebelum klaim pembunuhannya mencuat pada Selasa (17/3/2026).
Larijani dipastikan militer Israel menjadi target utama setelah tewasnya Ali Khamenei dalam gelombang awal serangan beberapa pekan sebelumnya.
Serangan udara yang menargetkan lokasi rahasia di Iran tersebut mengakhiri pelarian dua minggu Ali Larijani yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dari incaran intelijen Israel.
Berdasarkan laporan The Jerusalem Post, Larijani menjadi target utama nomor satu setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Sumber senior pertahanan mengungkapkan bahwa Larijani adalah sosok yang sangat berpengalaman dalam taktik penghindaran.
BACA INI JUGA : Jelang Laga Pembuka Piala Dunia U17, Ronny Tanuwijaya : Harus Optimis, Timnas Indonesia Bisa Melangkah Jauh
Sehingga Ali Larijani diketahui berpindah lokasi selama 2 minggu terakhir.
Kecanggihan teknologi pelacakan IDF akhirnya berhasil mengunci posisi Ali Larijani.
Pelarian di Lokasi Rahasia
Selama 14 hari terakhir, Larijani dilaporkan terus berpindah-pindah tempat persembunyian untuk mengelabui deteksi.
Namun, “kemampuan khusus” intelijen Israel yang dikombinasikan dengan keputusan kilat Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, memungkinkan jet tempur angkatan udara untuk mengeksekusi misi sejauh 1.600 kilometer tersebut dengan akurasi tinggi.
“Ini adalah operasi yang jauh lebih menantang daripada serangan di Gaza atau Lebanon. Kami beroperasi di jantung Iran yang sangat jauh,” ujar seorang sumber pertahanan.
Di saat yang hampir bersamaan, IDF juga melenyapkan komandan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani, di lokasi yang berbeda.
Kematian Larijani, jika dikonfirmasi secara resmi oleh Teheran, merupakan kerugian yang sulit tergantikan bagi rezim Iran.
Jeremy Bowen, editor internasional terkemuka, mengenang Larijani sebagai sosok diplomat cerdas dan pragmatis yang ia temui sejak era 1980-an di PBB.
BACA INI JUGA : Video Viral! Lagi Perang, Presiden Iran Cuek Turun ke Jalan Selfie Sama Warga
Meskipun dalam beberapa minggu terakhir Larijani mengeluarkan retorika perang yang keras, ia dikenal sebagai sosok fleksibel yang mampu bernegosiasi.
“Warga Iran kini ‘lebih aman’ tanpa mekanisme penindasan yang dipimpin oleh Larijani dan Soleimani,” ujar Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.***













