TANDABACA.ID – Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei disebut-sebut sebagai calon terkuat pengganti ayahnya. Ini Faktor yang membuatnya menjadi kandidat terdepan.
Beberapa faktor yang membuat Mojtaba Khamenei, menjadi kandidat terkuat dibandingkan lima nama lainnya adalah:
Dukungan Internal:
Mojtabe dilaporkan memiliki pengaruh besar di balik layar dalam administrasi ayahnya dan hubungan sangat dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Persiapan Suksesi:
Selama dua tahun terakhir, Mojtaba disebut-sebut telah dipersiapkan secara sistematis untuk posisi ini.
BERITA INI JUGA : Ini Enam Kandidat Pengganti Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Baru Iran
Kandidat Pesaing:
Meskipun nama-nama seperti Alireza Arafi (ulama senior anggota Dewan Garda) dan Hassan Khomeini (cucu Ruhollah Khomeini) muncul, posisi Mojtaba dinilai lebih dominan dalam struktur kekuasaan saat ini.
Namun, penunjukan ini tetap bergantung pada hasil musyawarah Majelis Ahli (Assembly of Experts), di mana dinamika politik antar faksi ulama dan militer akan sangat menentukan.
Mekanisme Pemilihan
Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran merupakan proses yang sangat tertutup namun memiliki aturan konstitusional yang jelas.
Pasca wafatnya Ali Khamenei pada akhir Februari 2026, Iran kini memasuki periode transisi yang krusial.
Berikut adalah rincian mengenai mekanisme dan perkiraan waktunya:
1. Lembaga Penentu: Majelis Ahli (Assembly of Experts)
Sesuai dengan Pasal 107 dan 111 Konstitusi Iran, tanggung jawab tunggal untuk memilih Pemimpin Tertinggi berada di tangan Majelis Ahli (Majles-e Khobregan).
BACA INI JUGA : Kompleks Beit Rahbari Dibombardir, Ali Khamenei, Putri, Menantu dan Cucu Syahid
Anggota: Terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih melalui pemilu setiap 8 tahun sekali.
Proses: Mereka akan mengadakan sidang darurat tertutup untuk membahas nama-nama kandidat dari daftar rahasia yang telah mereka simpan.
2. Mekanisme Pemungutan Suara
Kualifikasi: Kandidat harus memiliki kualifikasi keagamaan yang tinggi (Marja’), integritas moral, serta wawasan politik dan keadilan yang diakui.
Sistem: Pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara rahasia. Seorang kandidat harus memperoleh setidaknya dua pertiga suara dari anggota Majelis Ahli yang hadir untuk dinyatakan menang.
Opsi Dewan Kepemimpinan: Jika tidak ada satu individu pun yang dianggap cukup kuat atau mendapatkan mayoritas suara, konstitusi memungkinkan pembentukan sebuah Dewan Kepemimpinan (berisi 3-5 orang) untuk menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi sementara, meskipun opsi ini jarang dipilih karena risiko ketidakstabilan.
3. Kapan Pemilihan Dilaksanakan?
Hingga saat ini, proses tersebut sedang berjalan di bawah pengawasan ketat. Berdasarkan preseden sejarah dan aturan yang berlaku:
BACA INI JUGA : Ali Khamenei Meninggal, Israel Kembali Luncurkan Rudal, Eskalsi Konflik Memanas
Pemerintahan Sementara: Saat ini, Iran dipimpin oleh Dewan Transisi Kepemimpinan (yang kabarnya melibatkan nama-nama seperti Alireza Arafi dan Ali Larijani) untuk menjaga stabilitas negara.
Batas Waktu: Konstitusi menginstruksikan agar pemilihan dilakukan segera setelah posisi kosong. Biasanya, proses ini akan selesai dalam hitungan hari hingga beberapa minggu setelah masa berkabung nasional, guna menghindari kekosongan kekuasaan yang terlalu lama di tengah situasi konflik.
Kondisi Darurat: Karena kematian Ali Khamenei terjadi akibat serangan militer, proses pemilihan ini diperkirakan akan dipercepat untuk menunjukkan ketahanan rezim terhadap tekanan luar.
Faktor Penentu di Balik Layar
Meskipun secara formal Majelis Ahli yang memilih, pengaruh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan sangat menentukan. Siapa pun yang mendapatkan restu dari militer (IRGC) hampir dipastikan akan memenangkan suara di Majelis Ahli.***mode AI***














Response (1)