Jakarta, tandabaca.id
Sekilas tak ada yang menarik dengan foto di situs geheugen.delpher.nl ini. Namun keterangan dalam Bahasa Belanda di samping foto yang dibuat Govert J van Tets tahun 1893 bikin saya penasaran.
Bezoek aan gevangenis De Boei te Wonosobo, residentie Bagelen op Oost-Java. Artinya, kunjungan ke penjara De Boei di Wonosobo, Residensi Bagelen, Jawa Timur.
Entah siapa yang berkunjung, itu tidak penting. Kata de boei lebih menarik, karena membuat saya teringat pada lagu D’Lloyd — grup band tahun 1970-an — yang berjudul Hidup di Bui.
Atau, percakapan orang-orang tua dulu saat menakuti anak-anak remaja yang berniat melakukan tindak kejahatan. Misal; “Elu bisa dibui kalo mencuri di situ,” dan masih banyak lagi.
Boei atau Bui diartikan sebagai penjara. Ya, nggak salah juga sih. Bui itu berfungsi mengurung pelaku tindak pidana. Lagi pula gevangenis, kata dalam Bahasa Belanda yang artinya penjara, belum digunakan.
Rupanya ada tiga macam penjara. Pertama De Boei (Bui) yang terletak di luar kota. Kedua, Kettingkwartier untuk orang tahanan dengan kaki dirantai. Ketiga, Vrouwenthuchthuis untuk wanita Belanda yang melakukan perzinahan dan perselingkuhan.
Di luar itu ada yang namanya Spinhuis dan Rasphuis untuk wanita tuna susila, pengangguran, pemabuk yang berkeliaran di jalanan, dan gelandangan. Di tahanan mereka diberi pekerjaan sebagai pembuat cat.
Muchamad Sulton, dalam skripsi Perkembangan Lembaga Pemasyarakatan Pulau Nusakambangan Kabupaten Cilacap 1908-1983, mengatakan dari tiga macam rumah tahanan itu, plus dua lainnya, yang dikenal masyarakat hanya satu, yaitu bui.
Gevanginis
Hindia-Belanda mulai membangun bui antara 1872 sampai 1915, untuk pelaku tindak pidana ringan. Setelah 1915, terjadi perubahan kebijakan. Kata gevangenis, atau penjara, diperkenalkan. Contoh, Contoh Jeugdgevangenis, atau penjara anak, di Tangerang.
Bui dan penjara itu relatif berbeda. Bui, sesuai lirik lagu Hidup di Bui, adalah kurungan di tempat terbuka dengan penghuninya bisa dilihat umum. Penghuni bui seperti berada di dalam sangkar di tempat terbuka. Penjara adalah blok bangunan besar, dengan sel-sel di dalamnya, dan penghuni penjara tidak terlihat masyarakat umum.
Perubahan berkibat pada tidak lagi digunakan kata bui. Namun, kata bui abadi di benak masyarakat kita, diwariskan turun temurun, dan digunakan dalam percakapan sehari-hari.***
Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.










Responses (5)