Gugatan cerai lalu membuka pintu gosip perempuan-perempuan “bahenol nerkom”. Rakyat pun manggut-manggut pahit:
Esai Satire: Harri Safiari
KARIER politik Ridwan Kamil yang dulu melesat bak roket, kini jatuh nyungsep tanpa parasut.
Bukan karena satu dosa, tapi paket kombo: dugaan korupsi, gosip selingkuh, dan gugatan cerai. Lengkap. Praktis. Tinggal disajikan, lalu hap … masuk tuh ke mulut buaya darat!
KPK menyebut dugaan aliran dana haram Bank BJB, bahkan dipakai membeli mobil antik Presiden Habibie. Di titik ini, romantika politik berubah jadi lelang moral. Mahal, tapi busuk.
Ironisnya, semua ini dulu dibungkus citra manis: agamis, family man, bucin teladan.
Padahal, bucin di panggung publik sering cuma karpet merah untuk rasuah masuk pelan-pelan tapi pasti, kejeblos!
Kata Korupsinikus:
“Kalau cinta dipakai menutup korupsi, itu bukan bucin—itu penipuan berjamaah.”
Gugatan cerai lalu membuka pintu gosip perempuan-perempuan “bahenol nerkom”. Rakyat pun manggut-manggut pahit:
Oh, ternyata uang haram bukan cuma bikin kaya, tapi juga bikin lupa diri.
Pelajarannya sederhana, pedas, dan perih:
Korupsi tetap korupsi.
Mau dibungkus cinta, keluarga, agama, atau air mata—
tetap laknat dan terkutuk.
Korupsinikus menutup:
“Cinta itu urusan hati. Rasuah itu urusan neraka. Jangan ditukar-tukarkan.”
Sambil melengos Korupsinikus, memaksakan diri masih berucap:
“Ambil hikmahnya dari idola getir ini di Jabar khususnya, ke depan pemimpin model beginian, seleksi ketat sejak awal. Gunakan indera ke-6. Sedikitnya yang sederhana saja. Carilah yang baik hati, tidak sombong, serta rajin menabung. Jangan yang sekedar amanah, namun hasilkan amarah dikemudian hari”. (Selesai).














Response (1)