Khas  

Lahirnya Spesies Baru : Korupsinikus!

Ilustrasi Lahirnya Spesies Baru Korupsinikus (Cici AI)

Begitu amplop berpindah tangan—tubuhnya mendadak membatu dari kepala hingga kaki!. Inilah kisah lahirnya spesies baru The Origin of Korupsinikus

Cerpen Satire: Harri Safiari

ADALAH seorang bocah kelas empat SD di Negeri Konoha Raya (NKR) yang tengah melangkah pulang sekolah. Langit mendung, udara lengket, dan sepi menggantung. Saat melewati rumah tua yang reyot, telinganya menangkap suara orang dewasa berbisik-bisik. Nalurinya gatal. Dari celah dinding, ia mengintip—dan mendapati lima lelaki tengah membagi-bagikan amplop cokelat berisi uang. (Diduga kuat: uang haram!)

Sial bagi si bocah. Salah satu dari mereka melihat ada mata kecil menatap dari lubang dinding itu.

“Hey, siapa kau?! Jangan lari, kutangkap kau!”

Bocah itu pun kabur sekuat tenaga, tapi tertangkap di ujung jalan buntu. Seorang lelaki bertubuh tambun menarik kerah bajunya.

“Dengar, Nak. Apa pun yang kau lihat, lupakan! Jangan ceritakan kepada siapa pun, apalagi meniru kami! Kalau kau langgar—terkutuklah!”

Tangan lelaki itu menyorongkan amplop tebal ke dada si anak.

“Nih, ini bagianmu… anggap saja upah diam.”

Dan bodohnya, si bocah menerima amplop itu. Ia berjalan pulang sambil menatap uang yang terasa hangat, entah karena dosa atau takut.

20 Tahun Kemudian

Di sebuah kantor pemerintahan kota modern nan sibuk, seorang pegawai muda mengetik laporan warga. Rutinitasnya sudah hapal luar kepala: selesai berkas, terima amplop, pura-pura lupa.

Hari itu, ia menerima amplop yang ke-2.005. Jumlah ganjil yang ternyata keramat.
Begitu amplop berpindah tangan—tubuhnya mendadak membatu dari kepala hingga kaki!

Mulutnya menganga, mata melotot, kedua tangan terangkat di depan wajah seolah hendak menolak nasib. Sosoknya membeku abadi, seperti korban letusan Vesuvius di Pompeii. Hanya bedanya: ini bukan abu vulkanik, tapi kutukan moral yang beku selamanya.

2.000 Tahun Kemudian

Di sebuah Museum Geologi, seorang guru menjelaskan temuan manusia purba kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, ini fosil Pithecanthropus erectus, ditemukan oleh G.H.R. von Koenigswald di Sangiran. Hidup di zaman Pleistosen awal, tengah, dan akhir,”
ujar sang guru penuh wibawa.

Rubiansyah, murid yang paling cerewet sekaligus paling ingin tahu, menatap ke arah patung batu di sisi kanan fosil. Sosoknya mirip manusia modern—mulut menganga, tangan terangkat, ekspresinya antara kaget dan menyesal.

“Bu Guru, kalau yang itu siapa ya? Kok wajahnya kayak orang ketakutan banget?”

Sang guru menunduk, membaca papan nama di bawah fosil misterius itu.

“Oh… ini rupanya temuan unik juga, Nak. Tertulis di sini: Korupsinikus.”

Murid-murid terdiam. Hanya Rubiansyah yang berani bertanya lagi:

“Dia ini manusia purba juga, Bu?”

“Hmm… katanya bukan purba, Nak. Tapi… akibat kutukan bak Malin Kundang. Bedanya, ia menerima uang haram dua ribu tahun lalu di sebuah kantor pemerintahan. Lalu membatu seketika.”

Sang guru menatap fosil itu dengan mata sendu.

“Dan begitulah, anak-anak. Dari dosa kecil yang diterima dengan diam, lahirlah spesies baru: Korupsinikus.”
(Selesai.)

Bandung, tandabaca.id

tulisan ini telah tayang di media online algivon.id

BACA INI JUGA
KLH Akan Mencabut Sanksi untuk Eiger Adventure Land Puncak Bogor
Setwan DPRD Jabar Melakukan Efisiensi Diberbagai Pos Anggaran, Nggak Ada PHK
Terdampak Pemangkasan TKD, Pemprov dan DPRD Jabar Revisi Program Kerja

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *