Jakarta, tandabaca.id
Pada 31 Maret 1889 Menara Eiffel di Paris, Perancis, diresmikan dalam upacara yang dipimpin Gustave Eiffel, perancangnya.
Di Hindia Belanda, tepatnya di Tasikmalaya, pada Agustus tahun yang sama replika Menara Eiffel — seluruhnya terbuat dari bambu — dibangun AH van Bebber, insinyur dan arsitek pengolahan air.
Java Post menulis Menara Eiffel di Tasikmalaya dibangun untuk memperingati penobatan Ratu Wilhelmina. Bangunan serupa, juga terbuat dari bambu, juga dibangun di Surabaya tapi tak ada kabar apakah terlaksana atau tidak.
Preanger Bode edisi Agustus 1898 menulis Menara Eiffel berdiri di tengah alun-alun Tasikmalaya, dengan delapan gerbang kehormatan dari genre berbeda — Moor-Gothic sampai fin de-siecle — yang semuanya diterangi lelampuan indah.
Menara Eiffel setinggi 33 meter itu seolah dibangun seperti aslinya dan layak didaki. Menara Eiffel sesungguhnya menjulang setinggi 300 meter
Pada 12 September 1898, koran yang sama menulis; “Kami belum tahu sampai kapan Menara Eiffel di Tasikmalaya akan dibongkar.
Jika harus dibongkar setelah perayaan penobatan, sayang sekali. Van Bebber telah melakukan yang terbaik.”
Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur










Response (1)